Posts filed under 'Pariwisata'

PEMBANGUNAN PARIWISATA NIAS:Suatu Tinjauan Sosial Budaya

Oleh : Maharani Pande & Agus Paterson Sarumaha

Industri pariwisata merupakan salah satu industri terbesar di seluruh dunia. Mengutip pernyataan DR. Seuss, yang menyebutkan “The more people read, the more they know. The more they learn, then the more people would go everywhere.” Secara harfiah, pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa semakin banyak orang-orang membaca, maka semakin banyak mereka mengetahui segala sesuatu. Semakin banyak mereka belajar, maka semakin besar keinginan untuk berkunjung ke segala tempat. Seiring dengan terjadinya ‘demam’ globalisasi serta teknologi yang mendukung kemudahan orang untuk melakukan perjalanan, maka terdapat peluang yang sangat besar bagi pertumbuhan industri pariwisata. Inilah yang menyebabkan industri pariwisata tetap dapat menjadi sektor yang menjanjikan di masa yang akan datang, meskipun industri pariwisata sangat fragile dan rentan terhadap berbagai isu, terutama isu politik dan keamanan. Selain itu, industri pariwisata dapat menghasilkan pendapatan yang sangat besar, baik bagi Pemerintah (Pusat dan Daerah) maupun penduduk setempat.

Terdapat banyak definisi dari kata “Turis” yang dapat diberikan. Orang-orang yang berkunjung ke Negara asalnya, meskipun mereka sudah bermukim di luar negeri dalam waktu yang relatif lama, dapat juga dikatakan sebagai turis / wisatawan. Secara umum, turis adalah orang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu hal atau berbagai keperluan, kecuali untuk bekerja, sekolah, dan tinggal menetap atau berada kurang dari 24 jam di daerah tertentu.

Nias memiliki sumber kekayaan alam dan sejarah kebudayaan kuno yang merupakan asset utama, baik tangible maupun intangible asset yang dapat diberdayakan dalam rangka membangun Nias menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia. Kita tidak akan dapat menemukan panorama laut yang eksotis dengan ketinggian ombaknya serta atmosfir yang sedemikian mengagumkan kecuali di Nias. Demikian juga halnya dengan situs-situs kuno dan bersejarah peninggalan zaman Megalitikum yang mistis, tidak akan ditemukan pada daerah lain. Berdasarkan kondisi alam dan asset yang dimiliki, bentuk pariwisata yang mungkin untuk dikembangkan di Nias adalah wisata budaya (pilgrim tourism), serta wisata maritim, termasuk di dalamnya adalah adventure tourism. Namun demikian, untuk menarik kunjungan wisatawan, kita tidak dapat hanya mengandalkan kondisi alam serta peninggalan purbakala saja, karena wisatawan tidak mungkin hanya menghabiskan waktu menikmati pemandangan alam selama berjam-jam tanpa adanya suatu atraksi yang menarik.

Permasalahan yang timbul adalah, mengapa kelihatannya sangat sulit bagi Nias untuk menjadi destinasi wisata?

Syarat minimum yang harus dimiliki oleh suatu daerah untuk dapat menjadi daerah destinasi pariwisata adalah :

  1. Obyek atau atraksi wisata yang menarik.
  2. Mudah dicapai dengan alat kendaraan (darat, laut, dan udara).
  3. Tersedianya tempat tinggal sementara bagi pengunjung.
  4. Karakteristik masyarakat (ramah, sopan, terbuka)

Untuk dapat memenuhi persyaratan tadi, dibutuhkan investasi yang sangat besar. Agar di kemudian hari investasi yang dilakukan dalam pembangunan pariwisata Nias tetap terjaga arahnya, maka sebelumnya disusun suatu penelitian daya tarik pariwisata Nias.

Penelitian Daya Tarik Pariwisata Nias dilakukan dengan menganalisa faktor- faktor sebagai berikut :

Faktor

Kriteria

Point Analisa

Alam

Keindahan

Topografi (flora dan fauna sekitar pantai, sungai, laut, teluk dsb)

Iklim

Sinar matahari, suhu udara, cuaca, angin, hujan, kelembaban dsb

Sosial Budaya

Adat Istiadat

Pakaian, makanan, tata cara hidup, pesta rakyat, kerajinan tangan

Seni Bangunan

Arsitektur bangunan rumah adat

Pentas dan Pagelaran

Musik tradisional, tarian, perlombaan olah raga tradisional

Sejarah

Peninggalan Purbakala

Bekas istana, tempat peribadatan, bangunan purbakala peninggalan sejarah, dongeng dan legenda

Agama

Kegiatan Masyarakat

Kehidupan beragama yang tercermin dari tata cara ibadah, ritual, upacara dsb

Fasilitas Rekreasi

Olahraga

Berbagai jenis olahraga air (surfing, diving, snorkeling) berburu, hiking, serta kegiatan outbond lainnya

Edukasi

Museum arkeologi dan ethnologi

Fasilitas Kesehatan

Fasilitas untuk relaksasi dan berobat (healing)

Mata air panas, spa, tempat meditasi, dsb

Fasilitas Berbelanja

Berbelanja

Toko-toko souvenir dan kerajinan tangan, toko untuk barang keperluan sehari-hari, dsb

Fasilitas Hiburan

Hiburan malam

Restoran, Bar, Teater sandiwara, dsb

Infrastruktur

Kualitas Wisata

Jalan raya, taman, listrik, air, pelayanan keamanan, pelayanan kesehatan, sarana transportasi dll

Faktor

Kriteria

Point Analisa

Fasilitas Pangan dan Akomodasi

Makanan dan penginapan

Hotel, homestay, cottage, restaurant, kedai kopi, dsb

*) Sumber : Establishing a Measure of Touristic Attractiveness oleh E. Gearing, W.W. Stuart dan Turgut Var

Framework penelitian daya tarik pariwisata Nias tersebut dapat membantu Pemerintah Daerah Nias, tenaga ahli, professional, dan pelaku industri pariwisata Nias dalam membuat disain produk pariwisata Nias agar Nias dapat menjadi daerah tujuan wisata. Dengan demikian pembangunan dan promosi pariwisata Nias akan tetap berada dalam satu guideline yang jelas dan terarah.

Hubungan Sosial Budaya Masyarakat dengan Pariwisata Nias.

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial yang memiliki perasaan ingin tahu (curiosity) terhadap segala sesuatu yang pada akhirnya mendorong manusia itu untuk bepergian, mengadakan perjalanan dengan meninggalkan kampung halamannya untuk mengunjungi tempat-tempat lain serta merantau. Perjalanan merupakan suatu alat untuk mencapai emansipasi intelegensia serta aktualisasi dalam diri seseorang, karena dengan melakukan perjalanan, makin bertambah pula pengetahuan, wawasan, serta pengalaman seseorang. Ketiga hal tersebut dapat memperkaya personal culture atau subjective culture seseorang, yang erat hubungannya dengan watak dan sifat seseorang. Makin tinggi nilai watak dan sifat seseorang, maka makin tinggi pula emansipasi serta aktualisasi diri yang sudah dicapainya. Seseorang yang berbudaya atau a cultured man, dihasilkan dari pengetahuan, wawasan, dan pengalamannya dalam melakukan perjalanan selama hidupnya.

Dasar pemikiran di atas harus dijadikan sebagai landasan bagi masyarakat Nias sebagai pelaku dalam industri pariwisata, apabila ingin mengembangkan Nias sebagai daerah tujuan wisata, baik bagi wisatawan domestik maupun manca Negara. Perasaan ingin tahu tersebut harus terus dipupuk melalui suatu riset mengenai calon wisatawan (target pasar pariwisata Nias). Hasil angket PATA ( Pacific Asia Travel Association) menyebutkan bahwa lebih dari lima puluh persen jumlah wisatawan yang ingin mengadakan kunjungan ke Asia dan daerah Pasifik memilih dan menghendaki untuk melihat rakyat dengan cara hidup dan adat istiadat mereka, kesenian, bangunan, sejarah, serta peninggalan barang-barang kuno mereka. Resolusi yang diperoleh dalam Inter American Travel Congress adalah bahwa dalam industri pariwisata, wisata budaya dan kebudayaan merupakan unsur utama yang memegang peranan paling penting, sehingga dalam memajukan promosi industri pariwisata informasi dan penerangan tentang kebudayaan daerah termasuk sebagai materi publisitas pariwisata suatu daerah.

Kebudayaan Nias merupakan suatu manifestasi dan perwujudan karya serta kreasi yang bersifat spiritual dan artistik dari manusia-manusia yang membentuk daerah Nias yang menjadi milik bukan saja hanya masyarakat Nias, namun juga dunia. Warisan kebudayaan itu dapat menjadi obyek rasa ingin tahu seseorang asing akan darah Nias. Hal ini disebut dengan objective culture, dimana terdapat transformasi yang evolusioner dari gubuk yang primitif, gerak dan ekspresi yang sederhana menjadi konstruksi rumah adat yang megah dan mengagumkan, serta kesenian yang bermutu tinggi.

Dalam industri pariwisata, kedua kebudayaan subjective culture dan objective culture akan dipertemukan secara harmonis. Sesorang wisatawan yang asing dengan kebudayaan Nias datang untuk menyaksikan dan mengagumi semua manifestasi kebudayaan Nias yang disajikan baginya sebagai obyek atas kunjungannya ke Nias. Bagi si subyek, maka timbullah suatu pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan bagi obyek akan memperoleh rasa kagum dan apresiasi terhadap apa yang sudah disuguhkan, sehingga dapat memacu penciptaan yang lebih berkualitas.

Implikasi hubungan kebudayaan dan pariwisata Nias.

Secara ekonomi, hubungan kebudayaan dengan pariwisata Nias dinyatakan dalam bentuk penggunaan kekayaan kebudayaan untuk membentuk atraksi-atraksi baik living attraction (seni tari, ritual adat, dll) maupun non-living attraction (arsitektur bangunan, peninggalan historis dll) yang disuguhkan ke dalam suatu pameran, festival, event, yang dapat memberikan kesempatan kerja bagi seniman, penyelenggara, serta masyarakat Nias yang bekerja dalam industri pendukung pariwisata (hotel, homestay, restoran, transportasi, dll).

Implikasi sosial yang ditimbulkan oleh hubungan kebudayaan dengan pariwisata Nias adalah keuntungan yang positif dari hasil pendekatan masyarakat dunia dengan berbagai peradaban yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerjasama.

Yang tidak kalah pentingnya dalam hubungan antara kebudayaan dengan pariwisata Nias adalah nilai dan pemeliharaan, termasuk pengawasan serta bimbingan kekayaan kebudayaan Nias. Restorasi dan proyek konservasi terhadap benda-benda, monumen sejarah dan segala warisan peninggalan bersejarah harus dirancang dan dijaga. Pembentukan disain produk pariwisata Nias hendaknya tidak hanya “to please the tourist” tanpa menjaga keaslian dan keindahan kebudayaan Nias.

Tidak dipungkiri bahwa peran Pemda sangat besar untuk dapat bersikap proaktif dalam menentukan disain produk pariwisata Nias. Besar kiranya harapan saya, Pemda memberikan perhatian khusus pada pengembangan pariwisata Nias, mengingat dengan melalui pengembangan pariwisata, Nias dapat bangkit dari keterpurukan dan dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan bagi masyarakat Nias pada umumnya.

Add comment April 11, 2008

Kemajuan Pariwisata Nias dan Multiplier Effect yang Diberikan

Oleh : Agus Paterson Sarumaha 

 “Pariwisata sudah menjadi Globalisasi Industri terbesar di dunia”, demikian ungkapan John Naisbitt dalam bukunya “Global Paradox” dan juga penulis The New York Times No.1 best-seller “Megatrends 2000”. Sebagai penyumbang bagi ekonomi global, turisme (pariwisata) tidak ada tandingannya :

·        Turisme memperkerjakan 204 juta orang diseluruh dunia, atau satu dari tiap sembilan pekerja, 10,6 persen dari angkatan kerja global.

·        Turisme adalah penyumbang ekonomi terkemuka di dunia menghasilkan 10,2 persen produk  nasional bruto dunia.

·        Turisme adalah produsen terkemuka untuk pendapatan pajak sebesar $655 miliar.

·        Turisme adalah industri terbesar di dunia dalam hal keluaran bruto mendekati $3,4 trilliun.

·        Turisme merupakan 10,9 persen dari semua belanja konsumen, 10,7 persen dari semua investasi modal, dan 6,9 persen dari semua belanja pemerintah. “Dalam Abad ke-21”, ujar Geoffrey Lipman, Presiden dari World Travel & Tourism Council, “Akan ada gelombang pelancong Asia di pasar-pasar seluruh dunia, dan Negara-negara Asia akan menjadi tempat tujuan pelancong yang utama.”.  

Mengambil Peluang 

Berdasarkan pernyataan diatas dapat diprediksikan bahwa Sektor Pariwisata di masa yang akan datang akan sangat menjanjikan untuk tumbuh dan berkembang, khususnya di Pulau Nias yang kita cintai ini. Melihat besarnya proporsi yang dapat disumbangkan dari sektor pariwisata terhadap pendapatan bruto daerah, maka sudah seyogyanya peluang tersebut kita ambil. Industri pariwisata merupakan industri multi komponen, mulai dari hospitality (hotel dan fasilitasnya), transportasi, akomodasi, agen perjalanan, sampai dengan berbagai usaha yang menunjang kegiatan pariwisata itu sendiri. Oleh sebab itu akan dapat membuka banyak sekali kesempatan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat Nias. 

Benchmarking 

Ketika Jepang mengalami kekalahan pada perang dunia II terhadap tentara Sekutu dengan jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hirosima, Jepang menyerah tanpa syarat, dan tentara Sekutu mengambil alih pemerintahan Jepang dengan mengutus Jenderal MacArthur dari AS sebagai pengendali pemerintahan Jepang. Beliau memegang peranan yang cukup besar dalam bangkitnya ekonomi Jepang secara pesat dan mengagumkan setelah menderita kekalahan perang. MacArthur memberikan kesempatan kepada rakyat Jepang untuk mengirimkan para pelajar Jepang ke AS guna menimba ilmu dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, yang salah satunya adalah bidang “Rekayasa Industri”. Setelah menyelesaikan pendidikan di Negara Paman Sam tersebut, para intelektualnya mulai merekayasa industri-industri yang telah diciptakan oleh AS dan Eropa dengan cara “Benchmarking”, atau membedah dan mencontoh suatu produk kemudian merekayasanya dengan inovasi terbaru, sehingga produk tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada produk asal. Cara ini memberikan hasil yang optimal, tetapi biaya yang dikeluarkan rendah, karena tidak lagi diperlukan “Riset awal” sehingga biaya riset dapat ditekan. Sebagai hasilnya kita telah dapat melihat sampai detik ini bahwa Jepang merupakan salah satu Negara Industri termaju dan terkaya di dunia. Bercermin dari Success story diatas dalam rangka membentuk Pariwisata Nias, kita dapat menerapkan strategi Jepang, dengan cara Benchmarking pada industri pariwisata Bali yang merupakan salah satu  tempat wisata terbaik di dunia. Mengapa Bali yang dipilih ? Bali merupakan bagian wilayah NKRI, sehingga kita tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk datang ke Bali, selain itu karakterisitik potensi sumber daya pariwisata Nias serupa dengan karakteristik pariwisata Bali, yang mengembangkan wisata bahari, wisata seni, dan budaya serta berbagai kegiatan penunjang pariwisata seperti wisata outbond (petualangan), dimana bentuk ini sangat cocok untuk diterapkan untuk membangun Pariwisata Nias.      

Value Creating 

Untuk dapat menerapkan pola atau bentuk pariwisata Nias seperti di atas, terlebih dahulu kita harus membuat suatu konsep nilai yang nantinya akan menambah daya jual pariwisata Nias. Pembentukan konsep nilai tersebut dilakukan melalui suatu proses Value Creating, yang terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut :  

 Characters Building,   Skill Transformation, Local Government Role, Infrastructure,   Competitive Advantage, Integrated Marketing Concept 

Characters Building

 Sebagaimana artikel yang telah dipublikasikan pada situs NiasIsland.com “Ono Niha Menyikapi Masa Depan” oleh Bapak Masthias J Daeli bahwa “Keberanian untuk merasa optimis berdasar keyakinan bahwa yang pertama dan utama yang merubah nasib sendiri adalah diri sendiri”, maka kehidupan selalu ditandai dengan perubahan, dan perubahan memberikan harapan. Makna tersebut sudah selayaknya kita renungkan serta kita hayati apabila kita mau mengubah nasib sendiri serta mau maju.  Seperti apa yang dimuat pada Harian Suara Karya, 1 April 1985, dalam buku “Menanti Kemakmuran Negeri”, Kumpulan Esai tentang Pembangunan Sosial Ekonomi Indonesia oleh Burhanuddin Abdullah (Gubernur Bank Indonesia saat ini), menyatakan bahwa ciri-ciri orang maju adalah : 1.     Selalu siap dengan pengalaman baru dan terbuka terhadap inovasi dan perubahan.2.     Memiliki pendapat tentang banyak hal dan masalah, serta menyadari adanya perbedaan pendapat.3.     Memiliki apresiasi terhadap waktu, terutama tentang kekinian dan masa depan.4.     Selalu berorientasi pada dan terlibat dengan perencanaan.5.     Percaya bahwa sesuatu bisa dipelajari.6.      Percaya bahwa “dunia” ini bisa dihitung.7.      Menekankan pada pentingnya harga diri.8.     Lebih percaya pada Ilmu dan Teknologi serta sangat yakin terhadap distribusi keadilan yang didasarkan pada kontribusi kerja dari pada hal-hal lain.  Berpedoman dari makna diatas sebaiknya kita harus berubah dengan cara menghilangkan segala sikap-sikap yang bersifat negatif, seperti tidak percaya diri, saling hujat, reaktif, tertutup, serta feodalisme.  Sebaliknya kita bangun sifat “Percaya Diri”; “Berpikir positif”; “Berdialog dengan pola Brainstorming untuk mencari solusi”; “Berkomunikasi dengan Santun”; “Terbuka dan mau menerima segala hal yang bersifat membangun”; “Mengaktualisasikan diri secara terus menerus agar dapat selalu berinovasi serta beradaptasi terhadap perubahan, kemajuan, dan teknologi kekinian”; “Mau menerima perbedaan”; serta “Peduli antar sesama umat manusia”.  Character Building ini akan menjadi satu ingatan (memorial experience) bagi wisatawan ketika berkunjung ke pulau Nias, bahwa mereka merasa aman, nyaman serta damai dan tenteram, sehingga akan timbul keinginan mereka untuk dapat mengulangi kembali memorial experience yang menyenangkan itu dengan kunjungannya ke Pulau Nias. 

Skill Transformation  

Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan sektor pariwisata pada suatu kawasan, maka tidak dipungkiri bahwa terdapat kemungkinan adanya kesenjangan sosial ekonomi, yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan dalam inovasi dan keterampilan untuk  membuat suatu produk serta memasarkannya. Tentunya masyarakat Nias tidak mau menjadi penonton akan tetapi harus dapat menjadi “Sutradara” serta “Pemeran Utama”  dalam menumbuhkembangkan sektor pariwisatanya. Berpijak pada apa yang yang telah diutarakan di atas, maka Skill Transformation (Transformasi keterampilan) harus dilakukan dalam berbagai “Lini Pekerjaan” maupun “Profesi” sebagai penunjang kegiatan pariwisata. Sebagai contoh, keterampilan pematung dan pemahat  akan sangat dibutuhkan untuk dapat mereplikasi segala benda-benda peninggalan sejarah nenek moyang Nias, kemudian membuatnya menjadi produk cinderamata dan souvenir dari Nias yang dapat dijual kepada wisatawan, sehingga tidak lagi memperjualbelikan benda-benda pusaka yang asli yang seharusnya menjadi warisan bagi anak cucu masyarakat Nias dari generasi ke generasi, agar jati diri mereka sebagai orang Nias dapat ditanamkan sejak kecil tanpa harus belajar dari luar negeri dimana pada saat ini koleksi pusaka Nias yang asli banyak disimpan pada museum-museum di Eropa. Hal – hal yang juga sangat penting dalam membentuk keterampilan dan keahlian masyarakat adalah kemauan serta kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa asing, paling tidak bahasa Inggris, agar dapat menjalin hubungan yang baik dengan wisatawan asing yang berkunjung dan berbelanja di Nias. Selain itu, faktor keterampilan pelayanan yang akan diberikan kepada wisatawan juga harus disempurnakan dalam rangka memberikan jasa pelayanan yang prima.

Local Government Role  

Peranan Pemerintah Daerah Nias SANGAT dibutuhkan dalam memajukan pariwisata Nias, melalui pembuatan Peraturan Daerah (PERDA), dimana Pemda Nias berkewajiban untuk mengeluarkan Perda yang mengutamakan kepentingan warga Nias dalam mengelola assetnya dan mempermudahkan birokrasi perijinan; bersikap fleksibel dalam menarik investor (tentunya dengan memperjuangkan kepentingan warga Nias) guna membangun industri pariwisata Nias; menganggarkan Dana Alokasi Umumnya sesuai dengan proporsi; menjalin kerjasama pengadaaan sarana, prasarana serta promosi, baik antar pemerintah maupun non pemerintah (swasta), sehingga dengan dukungan tersebut para investor tertarik untuk menanamkan modalnya dalam industri pariwisata Nias.   

Infrastructure 

Ketika saya melakukan perjalanan ke Medan, sesampainya di bandara Polonia, saya bertanya kepada petugas bandara, tentang jadwal keberangkatan pesawat ke Nias. Petugas tersebut dengan tersenyum-senyum menyampaikan bahwa, “Keberangkatan pesawat ke Nias tidak setiap hari”, dan petugas itu juga mengutarakan bahwa jadwal keberangkatan itu tergantung apabila “Memungkinkan untuk Berangkat”, yang menyiratkan “tergantung jumlah penumpangnya”. Ini merupakan suatu realita yang menunjukkan bahwa permintaan terhadap penerbangan ke Nias masih sangat minim, terbatas hanya pada kalangan wisatawan yang pernah berkunjung sebelumnya seperti para peselancar, budayawan dan peneliti antopologi, selain masyarakat Nias perantauan, dan orang-orang yang harus datang ke Nias dalam rangka tugas. Lebih jauh lagi, penalaran tadi juga menyiratkan bahwa tidak banyak orang yang pergi ke Nias dalam rangka memenuhi rasa keingintahuannya tentang Nias. Kemungkinannya, lebih banyak lagi orang yang samasekali tidak mengetahui potensi pariwisata, situs – situs peninggalan bersejarah, serta panorama alam yang menakjubkan yang terdapat di Nias. Hal ini merupakan akibat dari minimnya informasi dan infrastruktur yang ada, baik transportasi laut maupun udara, Pelabuhan Udara, Pelabuhan Laut, sarana jalan raya serta sarana akses menuju tempat-tempat wisata. Selain itu, pembangunan sarana hotel dan guest house khusus bagi pelancong (backpackers), perlu ditata. Kesediaan seluruh masyarakat Nias untuk menerima pendatang dengan tangan terbuka sangat diperlukan untuk mendorong para investor dalam membangun infrastruktur industri pariwisata Nias. 

Competitive Advantage 

Pada dasarnya keunggulan kompetitif pariwisata Nias adalah sesuatu yang dimiliki oleh Nias, namun tidak dimiliki dan tidak dapat ditiru oleh kawasan pariwisata lainnya yang menjadi pesaing dari Nias. Pembentukan suatu merek dagang pada pariwisata Nias (Brand Tourism) merupakan salah satu kunci keberhasilan promosi pariwisata Nias. Saat ini, yang dapat dikategorikan sebagai komponen keunggulan kompetitif pariwisata Nias, antara lain :1.     Situs peninggalan Megalitikum.2.     Kehidupan adat istiadat masyarakat Nias ( rumah adat, ritual, budaya, bahasa, dll).3.     Kondisi alam Nias. 

Integrated Marketing Concept 

Pariwisata Nias tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa adanya partisipasi aktif dari segenap komponen masyarakat dalam melakukan pembentukan produk barang dan jasa pariwisata, promosi pariwisata, channel distribusi penjualan pariwisata Nias, serta pembangunan dan pembenahan obyek wisata Nias. Hal-hal tersebut membutuhkan ketersediaan informasi yang lengkap dan memadai baik bagi wisatawan yang akan berkunjung, maupun pelaku usaha pariwisata yang ada. Pelayanan informasi mengenai berbagai hal terkait dengan kepariwisataan Nias, sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan menggunakan konsep pelayanan satu atap.

*) Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan pada www.niasonline.com

Add comment Desember 24, 2007

Konsep Pelayanan Satu Atap dalam Meletakkan Pondasi Pariwisata Nias

Oleh : A. Paterson Sarumaha, Co-Writer: Maharani Pande

Salah satu faktor keberhasilan Bali dalam mempertahankan posisinya sebagai icon pariwisata dunia adalah kerjasama yang terpadu dan saling mendukung antara pemda dengan pelaku usaha, tokoh masyarakat, serta stakeholders yang berkepentingan dalam membangun pariwisatanya. Sebagai ilustrasi, di desa Ubud, tokoh masyarakatnya sangat berperan dalam membangun konsep pariwisata yang akhirnya dikenal sebagai desa wisata budaya. Sosialisasi wisata Ubud dimotori langsung oleh raja Ubud dengan disponsori oleh Pemda dan pengusaha sekitarnya. Berbagai event digelar secara reguler, misalnya atraksi tari Kecak, tari Legong, hingga sendratari berbau mistis dengan lakon Calonarang. Selain atraksi tari, Ubud juga menyuguhkan berbagai kegiatan yang unik untuk wisatawan, seperti belajar melukis dan memahat, kursus singkat membatik, dan yang tidak kalah menariknya adalah kesempatan bagi tamu hotel untuk ikut serta menanam padi di sawah. Masyarakat Bali pada umumnya sangat terbuka pada pendatang. Mereka memperbolehkan wisatawan datang dan ikut serta dalam pawai pada prosesi berbagai upacara adat di Bali, seperti Ngaben (upacara pembakaran jenazah), Melasti (prosesi penyucian diri dan perangkat upacara ke laut, yang biasanya dilakukan sebelum hari raya Nyepi) dan lain-lain.

Bercermin dari Bali, dalam usaha untuk membangun Nias menjadi tujuan pariwisata Indonesia bagian Barat, maka konsep pemasaran terpadu dapat diterapkan di Nias dengan membentuk suatu badan pengelolah pariwisata Nias (Nias Tourism Board).

Pembentukan Nias Tourism Board

Badan ini dapat berdiri di bawah naungan kedua Pemda Nias, dan beranggotakan selain dari aparat pemerintahan, tokoh masyarakat, maupun pelaku usaha pariwisata, serta professional yang memiliki kapasitas dalam mengembangkan pariwisata. Tujuan pembentukan Nias Tourism Board adalah untuk melakukan sosialisasi, pengenalan, dan promosi pariwisata Nias; serta memberikan layanan satu atap mengenai informasi yang menyangkut kepariwisataan Nias. Guna mencapai tujuannya, Nias Tourism Board menerapkan metode pengendalian mutu terpadu (Total Quality Management/TQM) yaitu merencanakan, melakukan, memeriksa, serta melaksanakan (Plan-Do-Check-Action / PDCA) seluruh obyek dan potensi pariwisata Nias, melalui suatu proses Komunikasi Pasar Terpadu (Integrated Marketing Communication) yang meliputi : Advertising (Iklan), berupa symbol dan logo, billboard, brosur, bulletin, video dan CD-Rom; Sales Promotion (Promosi Penjualan), misalnya pameran dagang dan pariwisata, program festival, pesta kesenian, roadshow, dll; Public Relations (Humas), dengan melakukan lobi pada sponsor, calon investor, serta antar pemerintah daerah lain, menjalin hubungan kerjasama dengan media massa, maskapai penerbangan, agen perjalanan, dll; Personal Selling (Tenaga Penjualan), dengan melakukan presentasi dan meeting pada saat event pameran pariwisata; Direct Marketing (Pemasaran langsung), melalui internet, catalog, atau telemarketing.Platform Pemasaran Pariwisata Nias : 4P (Product, Price, Place, Promotion) —> Segmenting —> Targeting —> Positioning

Positioning merupakan suatu langkah memposisikan pariwisata Nias pada pasar, yang menunjukkan seperti apa dan bagaimana pariwisata Nias itu ingin dikenal, misalnya “Pariwisata Nias adalah Surga bagi Peselancar”; “The Ancient Megalith of Nias”; “Nias, The Baby Island of Indonesia”; “Nias, The Nurture Island”; “Nias, the Island of Surfing”; “Nias, Wonderful Island”; ”Nias, Wanderer Island”; “Nias, the Door of Indonesia’s Blessing”; *).

Dalam menentukan brand pariwisata dan melakukan positioning terhadap brand tersebut, sebelumnya Nias Tourism Board melakukan segmentasi dan target pasar. Target pasar pariwisata Nias diperoleh dengan menentukan proporsi pangsa pasar terbesar berdasarkan segmentasi pasar. Segmentasi pasar pariwisata Nias pada dasarnya adalah pengkotakan konsumen potensial bagi pariwisata Nias, yang dikelompokkan misalnya, berdasarkan usia; penghasilan; tujuan kedatangan ke Nias, apakah kedatangannya ke Nias dalam rangka berlibur atau perjalanan bisnis; dan lainnya. Penentuan segmentasi pasar dilakukan melalui proses bauran pemasaran, yang terdiri dari : Penentuan Produk Pariwisata, misalnya wisata bahari, maupun wisata budaya, Penentuan Harga. Oleh sebab pariwisata merupakan suatu produk jasa, maka penentuan harga (pricing) dilakukan atas dasar nilai dan manfaat (value dan benefit) yang ditawarkan. Penentuan saluran distribusi Dalam hal ini ditekankan bahwa sangat diperlukan kerjasama antara Nias Tourism Board dan Pemda dengan pihak-pihak yang memiliki kemampuan untuk menjual pariwisata Nias. Sebagai contoh, kerjasama dengan Pemda lain (Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY) guna menjadikan Nias sebagai tandem destination (agar Nias juga menjadi destinasi dalam satu rancangan paket wisata yang diselenggarakan oleh daerah lain). Selain melalui kerjasama antar Pemda, Nias Tourism Board juga dapat bekerjasama dengan agen perjalanan, maskapai penerbangan, dan maskapai pelayaran, untuk membuat rancangan paket pariwisata Nias. Penentuan kegiatan promosi pariwisata yang akan dilakukan, dengan mengikuti berbagai event promosi pariwisata, seperti Pasar Pariwisata Indonesia (PPI), dan promosi lain baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sistem Informasi Pariwisata Nias

Pariwisata tanpa didukung dengan adanya sistem informasi yang handal akan sangat timpang. Informasi yang akurat akan menjadi suatu kekuatan (Strength) bagi kemajuan pariwisata Nias. Ketersediaan layanan informasi merupakan tanggung jawab bersama antara Nias Tourism Board dengan Pemda Nias. Informasi yang lengkap diwujudkan ke dalam suatu database pariwisata Nias yang meliputi Profil Daerah / Obyek Wisata, Regulasi Pemerintah, Jumlah kunjungan wisatawan, Produk Jasa Penunjang, Produk Kerajinan, Transportasi (Darat, Laut, Udara) serta jadwal keberangkatan masing-masing, Hotel, Biro Perjalanan Wisata, Informasi mengenai hasil alam Nias, dan lain-lain. Nias Tourism Board diharapkan dapat menjadi pusat informasi pariwisata Nias dan memberikan pelayanan akses informasi baik bagi calon wisatawan yang akan berkunjung, maupun pelaku serta pengusaha dalam industri pariwisata. Selain berfungsi dalam menyediakan informasi, system informasi ini juga dapat sebagai tools (alat ukur) dalam mengevaluasi kinerja pencapaian atas rencana kerja Nias Tourism Board.

Peranan Pemda dan Tokoh Masyarakat

Peran Pemda Nias sebagai motor penggerak dan kolektor informasi mutlak diperlukan karena Pemda Niaslah yang memiliki kewenangan dan sumber daya untuk membentuk Nias Tourism Board. Selain itu, partisipasi tokoh masyarakat yang disegani oleh masyarakat juga merupakan faktor keberhasilan pemberdayaan Nias Tourism Board. Satu hal yang patut menjadi cerminan bagi kita masyarakat “Ono Niha” adalah, kemajuan pariwisata Nias akan sangat bergantung kepada tingkat kesiapan kita dalam menerima pendatang dan tamu dengan tangan terbuka dan tanpa prasangka. Pariwisata merupakan industri jasa yang rentan terhadap issue, sehingga keberhasilan maupun kegagalan pembangunan pariwisata Nias menjadi tanggung jawab kita bersama. Faktor keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan adalah kunci keberhasilan kemajuan pariwisata, sehingga apabila wisatawan merasa aman dan nyaman selama berkunjung ke Nias, tentunya akan lebih banyak dollar yang dibelanjakan. Dengan demikian kemajuan pariwisata Nias akan tercapai, sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, yang menghasilkan multiplier effect dalam perekonomian Ono Niha.

*) Berbagai brand pariwisata Nias diperoleh dari masukan ide-ide brilian dari saudara-saudara Ono Niha yang tertuang dalam Kese-Kese No. 898 mengenai Brand Pariwisata Nias

*) Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan pada www.niasisland.com

2 comments Desember 24, 2007


Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

apmaha di Tentang Kami
shinta di Tentang Kami
andreas iswinarto di Krisis Keuangan AS, Masyarakat…
apmaha di Tentang Kami
apmaha di Tentang Kami

Kategori

Arsip

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30