Korupsi hantu masyarakat
Juni 6, 2010 at 12:08 am Tinggalkan komentar
Entah sudah berapa banyak penguasa, pejabat publik, politisi, pengusaha dimuka bumi ini yang terlibat skandal korupsi, bahkan di negeri “Paman Sam” pun tidak luput dari korupsi, sebut saja kasus Enron yang menyulap laporan keuangan bodong bersama tim konsultannya mengguncang dunia bisnis dan ekonomi, Merrill Lynch, Lehman Brothers, Goldman Sachs atau Morgan Stanley, melakukan persekongkolan bisnis tingkat tinggi secara tidak lazim melalui kredit subsidi perumahan yang dikenal dengan “Sub Prime Mortgage” dampaknya mengakibatkan krisis ekonomi dunia, di Afrika seperti negara Somalia akibat dari penguasanya korupsi, rakyatnya menderita krisis kelaparan yang berkepanjangan sehingga keamanan jalur pelayaran dunia melalui teluk Aden sangat rentan, ulah bajak laut Somalia yang terkenal sadis tanpa pandang bulu. China akhirnya memberlakukan hukuman mati terhadap koruptor, harian Kompas menyebut hingga oktober 2007 sebanyak 4.800 pejabat di China dijatuhi hukuman mati, sekarang China menjadi negara bersih dan termasuk negara pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Bagaimana dengan Indonesia ? pertanyaan yang sederhana menjadi klasik, karena epidemicnya ternyata sudah menyentuh segi-segi kehidupan berbangsa maupun bernegara, Ungkapan ini rasanya tidak berlebihan, konon di Jadul (zaman dahulu) Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) korupsi sudah ada.
(http://blog.unitomo.ac.id/ulul/files/2009/04/korupsi-di-masa-voc.pdf)
Sejarah mencatat bahwa paraktek-praktek korupsi oleh penguasa-penguasa birokrasi, suap-menyuap , sogok-menyogok untuk menjadi pegawai VOC , pemberian-pemberian upeti kepada penguasa di Jadul VOC sudah lazim dilakukan. (http://baltyra.com/2010/04/06/sejak-kapan-nusantara-belajar-korupsi/)
sepertinya korupsi di Indonesia ini sudah menjadi budaya yang tidak lekang dimakan zaman.
Dari rezim pemerintahan yang satu ke pemerintahan lainnya baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka kelihatannya korupsi ini tidak pernah tuntas, seperti sel yang selalu berkembang biak dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi zaman (istilah gaulnya korupsi tiga zaman : zaman sebelum merdeka, sesudah merdeka, dan zaman sekarang). Saat ini santer isu makelar kasus, pelakunya tidak hanya seorang diri, bahkan sudah melibatkan banyak pihak, terorganisir dengan rapih, sangat struktural bagaikan cara kerja mafia Sicilia terkenal dalam film triloginya “The God Father”, membentuk kroni, membangun daerah kekuasaan, menempatkan “DON“ (pimpinan mafia) yang lihai dalam urusan upeti.
Bagaimana pula dengan kepulauan Nias?, KORUPSI DI NIAS KAPAN TUNTASNYA? Ungkap Mustika Ranto Gulo pemilik blog www.niasbarat.wordpress.com postingan 10 november 2008, Pertanyaan diatas sangat mendasar dan patut dipertanyakan, karena selama ini media hanya melansir penguasa atau pejabat diduga korupsi ini dan itu, realitanya belum terbukti menjadi tersangka apalagi sampai diinapkan di hotel prodeo, apabila tidak terbukti maka bisa saja mengarah ke fitna dan gosip murahan yang tidak mendasar, seluruh yang disangkakan perlu pembuktian hukum, kita menghormati asas praduga tidak bersalah. Tidak ada negara dimanapun dimuka bumi ini yang membenarkan korupsi, karena korupsi hanya menyengsarakan rakyat, tujuannya memperkaya dirinya sendiri atau kelompoknya dengan melakukan persekongkolan, modus operandinya sangat beragam, ada yang melakukan secara terang-terangan, ada yang seperti seorang psikopat pembunuh berdarah dingin, tapi sadis, Kembali mengingatkan kita pada sequel film “Silent of the Lamb” ber genre kriminal dan horror, dan adapula seperti perkawinan politik ujar Srimulyani Indrawati sang mantan menteri keuangan yang sekarang didaulat menjadi managing director Bank Dunia. Ada baiknya memberantas korupsi dimulai dari hati nurani kita sendiri dengan mengamalkan ajaran agama serta nilai-nilai yang baik dalam kehidupan sehari-hari semisal: Tidak membiasakan mencatut waktu, Menilep uang orang tua walaupun skalanya kecil, Mencatut uang sekolah pada akhirnya bingung kalo sudah hendak ujian mo bayar pake apa?, Mencatut uang perjalanan dinas, Mark-up harga yang tidak wajar, dll, masih banyak hal-hal yang kecil tanpa kita sadari bisa mengakibatkan kita menjadi “Fobia” terhadap korupsi, celakanya lagi bila kita sudah mendapat kesempatan menjadi pemimpin dan penguasa godaan pun semakin meningkat, karena ada kesempatan, kemudian ditambah lagi dengan faktor kebiasaan, akhirnya terbentuk mental “Proyek” selalu sigap mencari amplop dan sabetan. Bila setan pada film “The Ring” hantunya anak kecil membuat bulu roma bergidik, Atau “1408” Hotel, Film horror yang dibintangi John Cusack dan Samuel L. Jackson, setan roh jahatnya gentayangan selalu mengganggu dikamar, itu belum seberapa dibandingkan dengan “Hantu Korupsi”, bergentanyangan dimana-mana, lebih serem dan lebih menakutkan, karena efeknya dapat menimbulkan kesengsaraan generasi kita sampai anak cucu dimasa yang akan datang . Semoga hantu korupsi ini bisa dienyahkan dibumi pertiwi ini.
Entry filed under: Sosial Budaya. Tags: .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed