Archive for Oktober 11th, 2008
Krisis Keuangan AS, Masyarakat Indonesia
Oleh : Agus Pierce Paterson Sarumaha
Krisis keuangan Amerika Serikat (AS) dapat memicu krisis keuangan dunia, khususnya Indonesia, saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) terkena dampak langsung, saham-saham rontok satu-persatu dengan index harga saham merosot pada level terendah, sehingga pemerintah terpaksa menutup BEI untuk sementara sampai batas yang tidak ditentukan, peristiwa ini diawali dari Black Friday dimana runtuhnya index harga saham pada bursa saham dihampir seluruh negara, salah satu pemicunya adalah kebangkrutan perusahaan finansial Amerika Lehman Brothers, kemudian menyusul dengan institusi keuangan lain seperti Merryl Linch terpaksa di akusisi Bank Federal (Bank Sentral AS), ambrol karena kekurangan likuiditas, demikian juga perusahaan finansial global AIG . Selama ini perusahaan-perusahan finansial AS banyak menyedot investasi dibidang properti, besarnya tunggakan yang diperoleh dari sektor inilah yang menjadi sumber krisis keuangan AS.
Kredit perumahan di AS Non Performing Loan (NPL) luar biasa tingginya sehingga sewaktu-waktu dapat menjadi bom waktu yang menimbulkan kredit mangkrak alias macet, pada hal kredit perumahan ini skimnya jangka panjang dan bunga lebih rendah karena dengan adanya fasilitas hipotek (sub prime mortgage house), masyarakat AS berbondong-bondong seperti bebek bengil (istilah bali: bebek yang ada disawah penuh lumpur) ingin mendapatkan kredit perumahan baik dalam bentuk landed house, condominium, dan mobile house, kendati tidak jarang debiturnya belum layak diberikan kredit karena kemampuan bayar belum memenuhi syarat. Masyarakat AS juga sangat melek investasi, jual beli saham di pasar uang sudah tidak asing lagi bagi seluruh masyarakatnya, bermain di pasar uang ibaratnya kita seperti bertarung diarena judi, menjadi kaya dan miskin dapat terjadi dalam hitungan menit.
Belajar dari krisis keuangan AS ada baiknya kita sebagai masyarakat Indonesia baik secara individu atau rumah tangga akan lebih aman memperkokoh fundamental ekonomi, cara gamblangnya adalah: coba kalkulasikan sumber penghasilan anda, lalu membandingkannya dengan hutang yang ada, jangan sampai cash flow terganggu akibat hutang lebih besar dari pada penghasilan, sehingga tambal sulam kerap terjadi akibat kesalahan pengelolaan uang. Dimasa kini life style masyarakat kita sangat mengkuatirkan, fenomena trend setter menjadi ajang gemerlapnya dunia konsumtif, masyarakat berlomba-lomba mengikuti apa saja mode yang terbaru demi gengsi dan kredibilitas high society yang salah kapra, walaupun dengan hutang pakai kartu kredit, atau hutang dengan kredit konsumtif selalu dijabanin hanya karena gengsi sehingga ada istilah orangtua kita dulu “lebih besar pasak dari pada tiang” jika kita kaitkan dengan bahasa ekonomi mempunyai makna “lebih besar hutangnya dari pada pendapatannya”, adapula anekdot kultur masyakarat “Lebih baik tidak makan dari pada tidak bergaya”, terkadang geli juga melihatnya banyak masyarakat kita yang makan sehari-hari saja susah, akan tetapi memaksa diri untuk berhutang demi untuk membeli handphone seri terbaru dengan fasilitas camera, video-cam, music mp3 dengan generasi 3G, gadgad lainnya seperti ipod, dll. Fenomena gonta-ganti handphone, gadgad sudah menjadi pemandangan umum sehari-hari, tidak heran perusahaan-perusahaan telekomunikasi global, berlomba-lomba mengejar pasar potensial Indonesia yang sedang baby boomer, diiringi pula banyaknya layanan operator seluler saat ini dengan persaingan yang berdarah-darah memaksa operator memberikan fasilitas-fasilitas yang sangat menarik mulai dari gratis sms, gratis tarif komunikasi sesama operator, pokoknya pendek kata sangat memanjakan konsumennya, Sepertinya masyarakat kita sulit membedakan antara mana yang diinginkan dan mana yang diperlukan, sehingga bisa saja keinginan dapat mengalahkan keperluan, pada akkhirnya bagi masyarakat yang tidak banyak memiliki hard cash memilih berhutang sebagai short cut dalam penyelesaiannya demi untuk memenuhi keinginan tadi, soal tagihan pembayaran eh nanti dulu, gimana nanti lah bukan sulap dan bukan sihir . Budaya-budaya seperti ini sudah waktunya kita tinggalkan dan kita maknai dengan “Hemat pangkal kaya” Jika saja hutang tersebut digunakan pada hal-hal yang produktif, sangatlah memungkinkan untuk dapat membantu dalam menopang penghasilan tambahan bahkan menjadi penghasilan yang utama, setidak-tidaknya kita sudah mulai mendidik diri sendiri menjadi seorang entrepreneur, jika memang tidak demikian, maka tidaklah salah untuk mencoba tampil dalam pola kesederhanaan (apa adanya), dari pada kelihatannya kaya padahal sebenarnya miskin.
1 comment Oktober 11, 2008