PEMBANGUNAN PARIWISATA NIAS:Suatu Tinjauan Sosial Budaya
April 11, 2008
Oleh : Maharani Pande & Agus Paterson Sarumaha
Industri pariwisata merupakan salah satu industri terbesar di seluruh dunia. Mengutip pernyataan DR. Seuss, yang menyebutkan “The more people read, the more they know. The more they learn, then the more people would go everywhere.” Secara harfiah, pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa semakin banyak orang-orang membaca, maka semakin banyak mereka mengetahui segala sesuatu. Semakin banyak mereka belajar, maka semakin besar keinginan untuk berkunjung ke segala tempat. Seiring dengan terjadinya ‘demam’ globalisasi serta teknologi yang mendukung kemudahan orang untuk melakukan perjalanan, maka terdapat peluang yang sangat besar bagi pertumbuhan industri pariwisata. Inilah yang menyebabkan industri pariwisata tetap dapat menjadi sektor yang menjanjikan di masa yang akan datang, meskipun industri pariwisata sangat fragile dan rentan terhadap berbagai isu, terutama isu politik dan keamanan. Selain itu, industri pariwisata dapat menghasilkan pendapatan yang sangat besar, baik bagi Pemerintah (Pusat dan Daerah) maupun penduduk setempat.
Terdapat banyak definisi dari kata “Turis” yang dapat diberikan. Orang-orang yang berkunjung ke Negara asalnya, meskipun mereka sudah bermukim di luar negeri dalam waktu yang relatif lama, dapat juga dikatakan sebagai turis / wisatawan. Secara umum, turis adalah orang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu hal atau berbagai keperluan, kecuali untuk bekerja, sekolah, dan tinggal menetap atau berada kurang dari 24 jam di daerah tertentu.
Nias memiliki sumber kekayaan alam dan sejarah kebudayaan kuno yang merupakan asset utama, baik tangible maupun intangible asset yang dapat diberdayakan dalam rangka membangun Nias menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia. Kita tidak akan dapat menemukan panorama laut yang eksotis dengan ketinggian ombaknya serta atmosfir yang sedemikian mengagumkan kecuali di Nias. Demikian juga halnya dengan situs-situs kuno dan bersejarah peninggalan zaman Megalitikum yang mistis, tidak akan ditemukan pada daerah lain. Berdasarkan kondisi alam dan asset yang dimiliki, bentuk pariwisata yang mungkin untuk dikembangkan di Nias adalah wisata budaya (pilgrim tourism), serta wisata maritim, termasuk di dalamnya adalah adventure tourism. Namun demikian, untuk menarik kunjungan wisatawan, kita tidak dapat hanya mengandalkan kondisi alam serta peninggalan purbakala saja, karena wisatawan tidak mungkin hanya menghabiskan waktu menikmati pemandangan alam selama berjam-jam tanpa adanya suatu atraksi yang menarik.
Permasalahan yang timbul adalah, mengapa kelihatannya sangat sulit bagi Nias untuk menjadi destinasi wisata?
Syarat minimum yang harus dimiliki oleh suatu daerah untuk dapat menjadi daerah destinasi pariwisata adalah :
- Obyek atau atraksi wisata yang menarik.
- Mudah dicapai dengan alat kendaraan (darat, laut, dan udara).
- Tersedianya tempat tinggal sementara bagi pengunjung.
- Karakteristik masyarakat (ramah, sopan, terbuka)
Untuk dapat memenuhi persyaratan tadi, dibutuhkan investasi yang sangat besar. Agar di kemudian hari investasi yang dilakukan dalam pembangunan pariwisata Nias tetap terjaga arahnya, maka sebelumnya disusun suatu penelitian daya tarik pariwisata Nias.
Penelitian Daya Tarik Pariwisata Nias dilakukan dengan menganalisa faktor- faktor sebagai berikut :
|
Faktor
|
Kriteria |
Point Analisa |
|
Alam |
Keindahan |
Topografi (flora dan fauna sekitar pantai, sungai, laut, teluk dsb) |
|
|
Iklim |
Sinar matahari, suhu udara, cuaca, angin, hujan, kelembaban dsb |
|
Sosial Budaya |
Adat Istiadat |
Pakaian, makanan, tata cara hidup, pesta rakyat, kerajinan tangan |
|
|
Seni Bangunan |
Arsitektur bangunan rumah adat |
|
|
Pentas dan Pagelaran |
Musik tradisional, tarian, perlombaan olah raga tradisional |
|
Sejarah |
Peninggalan Purbakala |
Bekas istana, tempat peribadatan, bangunan purbakala peninggalan sejarah, dongeng dan legenda |
|
Agama |
Kegiatan Masyarakat |
Kehidupan beragama yang tercermin dari tata cara ibadah, ritual, upacara dsb |
|
Fasilitas Rekreasi |
Olahraga |
Berbagai jenis olahraga air (surfing, diving, snorkeling) berburu, hiking, serta kegiatan outbond lainnya |
|
|
Edukasi |
Museum arkeologi dan ethnologi |
|
Fasilitas Kesehatan |
Fasilitas untuk relaksasi dan berobat (healing) |
Mata air panas, spa, tempat meditasi, dsb |
|
Fasilitas Berbelanja |
Berbelanja |
Toko-toko souvenir dan kerajinan tangan, toko untuk barang keperluan sehari-hari, dsb |
|
Fasilitas Hiburan |
Hiburan malam |
Restoran, Bar, Teater sandiwara, dsb |
|
Infrastruktur |
Kualitas Wisata |
Jalan raya, taman, listrik, air, pelayanan keamanan, pelayanan kesehatan, sarana transportasi dll |
|
Faktor
|
Kriteria |
Point Analisa |
|
Fasilitas Pangan dan Akomodasi |
Makanan dan penginapan |
Hotel, homestay, cottage, restaurant, kedai kopi, dsb |
*) Sumber : Establishing a Measure of Touristic Attractiveness oleh E. Gearing, W.W. Stuart dan Turgut Var
Framework penelitian daya tarik pariwisata Nias tersebut dapat membantu Pemerintah Daerah Nias, tenaga ahli, professional, dan pelaku industri pariwisata Nias dalam membuat disain produk pariwisata Nias agar Nias dapat menjadi daerah tujuan wisata. Dengan demikian pembangunan dan promosi pariwisata Nias akan tetap berada dalam satu guideline yang jelas dan terarah.
Hubungan Sosial Budaya Masyarakat dengan Pariwisata Nias.
Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial yang memiliki perasaan ingin tahu (curiosity) terhadap segala sesuatu yang pada akhirnya mendorong manusia itu untuk bepergian, mengadakan perjalanan dengan meninggalkan kampung halamannya untuk mengunjungi tempat-tempat lain serta merantau. Perjalanan merupakan suatu alat untuk mencapai emansipasi intelegensia serta aktualisasi dalam diri seseorang, karena dengan melakukan perjalanan, makin bertambah pula pengetahuan, wawasan, serta pengalaman seseorang. Ketiga hal tersebut dapat memperkaya personal culture atau subjective culture seseorang, yang erat hubungannya dengan watak dan sifat seseorang. Makin tinggi nilai watak dan sifat seseorang, maka makin tinggi pula emansipasi serta aktualisasi diri yang sudah dicapainya. Seseorang yang berbudaya atau a cultured man, dihasilkan dari pengetahuan, wawasan, dan pengalamannya dalam melakukan perjalanan selama hidupnya.
Dasar pemikiran di atas harus dijadikan sebagai landasan bagi masyarakat Nias sebagai pelaku dalam industri pariwisata, apabila ingin mengembangkan Nias sebagai daerah tujuan wisata, baik bagi wisatawan domestik maupun manca Negara. Perasaan ingin tahu tersebut harus terus dipupuk melalui suatu riset mengenai calon wisatawan (target pasar pariwisata Nias). Hasil angket PATA ( Pacific Asia Travel Association) menyebutkan bahwa lebih dari lima puluh persen jumlah wisatawan yang ingin mengadakan kunjungan ke Asia dan daerah Pasifik memilih dan menghendaki untuk melihat rakyat dengan cara hidup dan adat istiadat mereka, kesenian, bangunan, sejarah, serta peninggalan barang-barang kuno mereka. Resolusi yang diperoleh dalam Inter American Travel Congress adalah bahwa dalam industri pariwisata, wisata budaya dan kebudayaan merupakan unsur utama yang memegang peranan paling penting, sehingga dalam memajukan promosi industri pariwisata informasi dan penerangan tentang kebudayaan daerah termasuk sebagai materi publisitas pariwisata suatu daerah.
Kebudayaan Nias merupakan suatu manifestasi dan perwujudan karya serta kreasi yang bersifat spiritual dan artistik dari manusia-manusia yang membentuk daerah Nias yang menjadi milik bukan saja hanya masyarakat Nias, namun juga dunia. Warisan kebudayaan itu dapat menjadi obyek rasa ingin tahu seseorang asing akan darah Nias. Hal ini disebut dengan objective culture, dimana terdapat transformasi yang evolusioner dari gubuk yang primitif, gerak dan ekspresi yang sederhana menjadi konstruksi rumah adat yang megah dan mengagumkan, serta kesenian yang bermutu tinggi.
Dalam industri pariwisata, kedua kebudayaan subjective culture dan objective culture akan dipertemukan secara harmonis. Sesorang wisatawan yang asing dengan kebudayaan Nias datang untuk menyaksikan dan mengagumi semua manifestasi kebudayaan Nias yang disajikan baginya sebagai obyek atas kunjungannya ke Nias. Bagi si subyek, maka timbullah suatu pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan bagi obyek akan memperoleh rasa kagum dan apresiasi terhadap apa yang sudah disuguhkan, sehingga dapat memacu penciptaan yang lebih berkualitas.
Implikasi hubungan kebudayaan dan pariwisata Nias.
Secara ekonomi, hubungan kebudayaan dengan pariwisata Nias dinyatakan dalam bentuk penggunaan kekayaan kebudayaan untuk membentuk atraksi-atraksi baik living attraction (seni tari, ritual adat, dll) maupun non-living attraction (arsitektur bangunan, peninggalan historis dll) yang disuguhkan ke dalam suatu pameran, festival, event, yang dapat memberikan kesempatan kerja bagi seniman, penyelenggara, serta masyarakat Nias yang bekerja dalam industri pendukung pariwisata (hotel, homestay, restoran, transportasi, dll).
Implikasi sosial yang ditimbulkan oleh hubungan kebudayaan dengan pariwisata Nias adalah keuntungan yang positif dari hasil pendekatan masyarakat dunia dengan berbagai peradaban yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerjasama.
Yang tidak kalah pentingnya dalam hubungan antara kebudayaan dengan pariwisata Nias adalah nilai dan pemeliharaan, termasuk pengawasan serta bimbingan kekayaan kebudayaan Nias. Restorasi dan proyek konservasi terhadap benda-benda, monumen sejarah dan segala warisan peninggalan bersejarah harus dirancang dan dijaga. Pembentukan disain produk pariwisata Nias hendaknya tidak hanya “to please the tourist” tanpa menjaga keaslian dan keindahan kebudayaan Nias.
Tidak dipungkiri bahwa peran Pemda sangat besar untuk dapat bersikap proaktif dalam menentukan disain produk pariwisata Nias. Besar kiranya harapan saya, Pemda memberikan perhatian khusus pada pengembangan pariwisata Nias, mengingat dengan melalui pengembangan pariwisata, Nias dapat bangkit dari keterpurukan dan dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan bagi masyarakat Nias pada umumnya.
Entry Filed under: Pariwisata. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed